Masih Perlukah Patriotisme?

Indonesia sudah merdeka sejak 61 tahun yang lalu. Para pejuang yang dulu ikut berjuang dengan taruhan jiwa dan raga sudah banyak yang tiada. Dan setelah sekianlamanya Indonesia merdeka, apakah negara ini masih membutuhkan orang-orang yang berjiwa patriotisme?

Menurut saya semangat patriotisme masih diperlukan sampai saat ini. Jika dahulu para pejuang memiliki semangat patriotisme yang diwujudkan dengan perjuangan mereka untuk mendapatkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, maka saat ini kita tidak mungkin memiliki wujud patriotisme yang sama dengan mereka. Negara kita sudah merdeka, maka yang bisa kita lakukan adalah mengisi kemerdekaan ini dengan membangun bangsa. Lalu bagaimanakah wujud patriotisme yang sesuai bagi bangsa kita sekarang ini?

Patriotisme bisa mendasari berbagai aspek kehidupan bangsa ini. Saya ambil saja contohnya dalam pekerjaan. Dalam bekerja, setiap orang akan lebih baik jika didasari rasa patriotisme karena dengan patriotisme kita bekerja dengan salah satu tujuannya adalah membangun bangsa. Nah, kebanyakan kita orang Indonesia tinggal di dalam Indonesia. Jika kita membangun bangsa melalui pekerjaan kita, kesejahteraan hidup kitapun niscaya akan meningkat karena kita semakin maju. Bukan hanya dalam pekerjaan, dalam aspek kehidupan yang lain pun kita bisa memiliki rasa patriotisme untuk membangun bangsa kita.

Jadi saya menyimpulkan bahwa rasa patriotisme masih diperlukan bangsa Indonesia bahkan sampai sekarang ini untuk membangun bangsa kita walaupun wujudnya bukanlah bambu runcing dan darah, melainkan dengan kecerdasan dan keuletan para profesional, dengan kearifan para pemimpin kota dan bangsa, dengan ketekunan dan keterampilan para pekerja, dan lain sebagainya. Bagaimana menurut Anda?

6 Responses to “Masih Perlukah Patriotisme?”


  1. Gravatar Icon 1 Diane Aug 21st, 2006 at 3:54 WIB

    Susah juga sih buat orang indonesia..Gimana” pasti di dalam kita kalau sudah tumbuh di indo, somehow rasa patriotisme itu ada di kita. Coba deh kalo misalnya indonesia masuk sampai final piala asia atau apa gitu, pasti kita dukung kan, meskipun kita juga suka tim korea selatan..misalnya, hehe..Yah, skrg si, terutama generasi anak” skrg ini mungkin kurang punya jiwa patriotisme..krn udah melihat keadaan negara yang kayak begini, rasanya kayak ngga ada harapan gitu -_-”..Coba deh tanya ama anak”, siapa pahlawan indonesia yang paling mrk segani? Pasti banyak yang bingung..hehe..Ada juga cerita soal anak” yang kuliah di luar negri tu, dosennya yg bule tanya ke mrk pertanyaan itu, mrk lgsg ga tau mau jawab sapa. Neewayz, klo aku sih jawabannya soekarno, hehe..Krn rasanya dia yang paling terkenal n paling kutahu -_-”..

  2. Gravatar Icon 2 Andi Yuliarto Aug 21st, 2006 at 6:28 WIB

    Memang keadaan Indonesia saat ini ya… seperti yang bisa kita lihat sekarang, patriotisme sudah menipis. Tapi … apakah tidak ada harapan? Pasti masih ada. Semua ini tergantung kita sebagai warga negara Indonesia, apakah kita memutuskan untuk acuh tak acuh terhadap bangsa ini, atau memutuskan untuk memperbaiki diri dan lingkungan kita, semuanya akan memberi efek terhadap bangsa kita.

    Mengenai sejarah kemerdekaan bangsa ini memang tidak banyak yang tahu. Sebagai contoh yang cukup ekstrim menurut saya, saya hidup di kota Surabaya, yang dikenal sebagai kota pahlawan. Mengapa disebut sebagai kota pahlawan? Pasti banyak yang tidak tahu kalau di kota Surabaya ini pernah terjadi peperangan berdarah yang melibatkan banyak orang. Banyak orang tidak tahu bahkan sejarah dari kota tempat tinggalnya karena memang jarang diperingati dan dimunculkan kembali semangat perjuangan yang pernah ada.

    Lalu jika kita lihat dari pendidikan. Sifat pelajaran history atau sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah merupakan pelajaran hafalan saja. Tidak perlu dihayati, tidak perlu dibayangkan, tidak perlu dimengerti, asalkan hafal saja siswa sudah bisa mendapatkan nilai yang baik. Jika begitu, apa fungsi pelajaran sejarah? Menurut saya sejarah itu penting untuk dimengerti, namun cara menyampaikan makna dari sejarah kedalam dunia pendidikan saat ini masih kurang tepat. Pasti ada cara untuk mengajarkan sejarah ke siswa-siswa yang mana bukah hanya dihafal, namun dimengerti nilai-nilai perjuangan dan patriotisme yang ada.

    Bagaimana menurut Anda?

  3. Gravatar Icon 3 Diane Aug 23rd, 2006 at 20:20 WIB

    Gimana” harapan pasti masih ada lah. Itu ga diragukan lagi.. :)

    Hoho..meskipun aq homeschool tapi at least masih tau lah kenapa surabaya disebut kota pahlawan..n juga, pas dulu di sd biasa diajarin koq di pelajaran IPS..
    Klo soal pendidikan si, memang di indonesia masi gitu..Ngga cuman sekolah negeri, tapi sekolah swasta pun juga. Guru”nya pun juga begitu, mengajar asal murid dapet nilai bagus ya sudah. Cuman sih, krn aq homeschool, kerasa banget bedanya. Klo soal sejarah si, memang kita ga cuman menghafal aja. Malah tujuan kita utamanya bukan menghafal, tapi belajar dari cerita” sejarah n try to figure out gimana caranya kita bisa apply hal-hal baik yang kita belajarin dari cerita sejarah itu. Cuman yah, di homeschool ini sih ga diajarin sejarah indonesia ya, krn sejarah indonesia tu ngga jelas banget. Maksudnya ya dulu tnt wanti aslinya juga mau memasukkan pelajaran sejarah indonesia, cmn krn referensi” yang ada itu rata” informasinya beda”, bahkan sempat ternyata ada cerita sejarah yang kita belajarin itu salah, menurut referensi lain. Jadi akhirnya kita ngga belajarin sejarah indonesia lagi. Menurutku sih mungkin itu jg karena dulunya orang indonesia tidak rajin menulis, bahkan sampai skrg itu adat masi ada, dimana orang indonesia kurang suka membaca dan menulis. Coba aja bisa dilihat, bookstore di satu mall aja paling cuman 1 sampai 2 aja. Kalau di luar negri, 1 mall pasti banyak bookstore, atau klo misalnya cuman sedikit, tempatnya pasti besar banget. Anyway, ya kita berharap aja sistem pendidikan di indonesia tambah baik dan benar” efektif. (Loh koq jadi ngomongin pendidikan di indonesia ya? hehe) Oh ya btw di homeschool si nanti grade brp gitu kita ada belajarin indonesian literature koq ;)

  4. Gravatar Icon 4 Andi Yuliarto Aug 24th, 2006 at 6:35 WIB

    Wah bagus juga tuh, belajar untuk menerapkan hal-hal yang baik dari sejarah. Yah memang sejarah Indonesia ada berbagai sumber yang tidak seragam dalam menceritakannya. Mungkin karena diambil dari sudut pandang yang berbeda. Atau mungkin ada beberapa cerita sejarah yang sudah diberi “bumbu” agar terlihat tebal dan menarik. Kalau ternyata sudah diberi “bumbu”, pasti sudah tidak bisa didapat informasi kronologis yang benar dari sejarah tersebut. Namun menurut saya masih ada informasi moral yang masih bisa diambil.

    Mengenai kebiasaan membaca dan menulis memang saya merasa sekali bahwa di Indonesia masih sangat kurang. Bahkan untuk saya sendiri, saya masih merasa kurang rajin membaca dan menulis. Yah semoga saja generasi muda bangsa Indonesia ini sadar akan pentingnya membaca dan menulis sehingga cepat atau lambat bisa merubah adat kebiasaan bangsa ini menjadi gemar membaca dan menulis.

    Mengenai homeschool ini menjadi semakin menarik saja bagi saya. Mungkin beberapa waktu yang akan datang saya akan menyajikan artikel tentang homescool ini.

  5. Gravatar Icon 5 Diane Aug 25th, 2006 at 23:10 WIB

    Ya kan memang tujuan belajar sejarah itu agar sejarah” buruk tidak terulang lagi..Tp mo gmn lagi yah, emank bener ‘history repeats itself’, hehe..

    Aminn..Hehe..

    Ok”, ditunggu.. ;)

  6. Gravatar Icon 6 choky setiawan,SH Sep 17th, 2006 at 20:58 WIB

    menurut saya patriotisme itu adalah,sikap berani mengambil tindakan untuk menentukan mana yang dianggap paling benar dalam kehidupan.kaarena selama ini masyarakat dalam menilai kejujuran hanya sebagai kedok saja dalam melancarkan segala kepentingan-kepentinganya saja.

Leave a Reply




Subscribe to this blog



Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Calendar

August 2006
S M T W T F S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Badges


Add to Technorati Favorites Firefox 2
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Display Pagerank
Peaceful Indonesia 10 Tahun Tragedi Mei 1998