Apa Kata Dunia?

Slogan “Apa kata dunia?” saat ini sering kali kita dengar di berbagai media. Salah satu diantaranya yang saya ingat pasti itu adalah pada iklan layanan masyarakat tentang kesadaran membayar pajak. Pada iklan berdurasi singkat itu, digambarkan seorang pria hendak melamar seorang wanita. Pada saat bertemu dengan orang tua dari wanita tersebut, pria tersebut berkata dia punya pekerjaan, rumah, dan mobil. Tapi ayah dari wanita tersebut bertanya, apakah dia punya NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) atau tidak? Ternyata pria tersebut tidak memiliki NPWP. Singkatnya ayah dari wanita ini protes, “tidak punya NPWP, apa kata dunia?”

Jika kita amati, slogan “Apa kata dunia?” ini merupakan gambaran dari kehidupan masyarakat kita sekarang ini. Posisi kita yang tinggal didalam kelompok masyarakat, sangatlah dipengaruhi oleh pandangan kelompok masyarakat. Setiap hal yang kita lakukan dan juga hasil yang kita peroleh, kesemuanya itu merupakan objek yang selalu mendapatkan komentar ataupun juga protes dari kelompok masyarakat disekeliling kita. Misalnya, ada seorang pemuda, anak dari orang kaya. Pemuda ini ingin bekerja sebagai seorang profesional, oleh karena itu ia bekerja pada sebuah kantor pemasaran pada satu perusahaan. Dari pengamatan akan hal ini, ada komentar-komentar masyarakat sekitar, misalnya “pemuda ini rajin, mau bekerja keras, tidak takut memulai dari bawah”, “pemuda ini tidak akur dengan orangtuanya sehingga tidak mau meneruskan pekerjaan orangtuanya”, atau bisa juga “orangtua dari pemuda ini serakah, sudah tua tapi tetap saja tidak mau menyerahkan pekerjaannya pada anaknya”, dan masih banyak lagi.

Komentar-komentar dari masyarakat ini sangat berpengaruh pada citra kita. Seseorang bisa memiliki citra diri yang baik apabila ada komentar yang baik tentang dirinya. Sebaliknya apabila seseorang mendapatkan komentar-komentar tidak baik, maka ia bisa tertekan dan bisa jadi citra dirinya jatuh. Ironisnya, komentar-komentar seperti ini sering kali hanya merupakan pendapat yang “asal ngomong” tanpa didasari pengetahuan mengenai fakta-fakta yang sesungguhnya.

Perkembangan pribadi seseorang sedikit banyak juga dipengaruhi oleh fenomena “Apa kata dunia?”. Dalam perkembangan pribadi, fenomena ini menberikan suatu tolok ukur tingkat perkembangan pribadi kita dengan perbandingan nilai normal atau nilai rata-rata yang ada didalam satu kelompok masyarakat. Dalam hal ini, seseorang dikatakan berhasil apabila ia mampu untuk memiliki kemampuan disekitar kemampuan rata-rata masyarakat. Seseorang akan dianggap aneh apabila memiliki kemampuan jauh dibawah (bodoh) ataupun jauh diatas (nyentrik) kemampuan rata-rata masyarakat. Keadaan seperti ini dapat menghalangi seseorang yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya secara maksimal. Hal ini membuktikan bahwa fenomena “Apa kata dunia?” tidak cocok sebagai tolok ukur perkembangan pribadi yang baik dan juga tidak dapat dianggap benar karena dapat menunjukkan kebenaran relatif. Sebuah tolok ukur yang baik untuk mengukur perkembangan pribadi adalah diri kita sendiri. Dengan cara ini kita dapat mengukur, apakah kemampuan kita saat ini lebih baik daripada kemampuan kita beberapa waktu yang lalu.

Walaupun fenomena ini tidak cocok untuk mengukur perkembangan pribadi, fenomena ini masih merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pribadi. Saat kita mengembangkan diri kita keluar dari kebenaran relatif yang ada pada pandangan masyarakat, kita menanggung resiko predikat “aneh” dari masyarakat.

Fenomena yang berupa pandangan kelompok masyarakat ini cukup sulit untuk diubah. Misalnya saja pandangan masyarakat bahwa jurusan teknik lebih bergengsi daripada jurusan ilmu sosial ekonomi. Pandangan lainnya misalnya, pandangan bahwa pekerjaan sebagai petani merupakan pekerjaan rendahan apabila dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Walaupun satu atau dua orang sadar bahwa pandangan tersebut salah, tetap saja sulit untuk mengubah pandangan masyarakat. Namun dalam sejarah pandangan masyarakat telah terbukti dapat diubah. Misalnya pandangan bahwa wanita berbeda dengan pria, tidak perlu sekolah, hanya perlu didapur, dll telah dapat diubah melalui perjuangan emansipasi wanita yang salah satunya dilakukan oleh R.A. Kartini.

Berdasarkan pemikiran diatas, yang dapat kita lakukan untuk mengembangkan diri kita pribadi menurut saya adalah sbb:

  • Menggunakan tolok ukur kemampuan kita beberapa waktu yang lalu untuk mengukur perkembangan pribadi kita.
  • Tidak mudah terpengaruh oleh fenomena “Apa kata dunia?”. Selalu bersikap kritis terhadap setiap hal. Jika kita yakin apa yang kita lakukan adalah hal yang benar, maka jangan ragu-ragu untuk melakukannya.
  • Jika kita tahu ada pandangan masyarakat yang salah, kita bisa menyumbangkan pemikiran kita untuk mengubah pandangan yang salah tersebut. Walaupun sulit, tapi pasti bisa berubah.
  • Memiliki pemikiran yang terbuka untuk menerima pemikiran orang lain. Tidak selalu pemikiran kita benar, kita juga bisa salah. Jika kita salah, marilah kita berubah. Namun perlu diingat juga, tidak semua pendapat orang itu benar, pintar-pintarlah menimbang pemikiran mana yang benar.
  • Jangan pernah berhenti mengembangkan diri menjadi pribadi yang maksimal.

2 Responses to “Apa Kata Dunia?”


  1. Gravatar Icon 1 herman Apr 20th, 2008 at 8:30 WIB

    Apa Kata Dunia …..

    adalah kata-kata orang yang besar, pangkat tinggi, milioner, pokoke orang2 yang hebat dunk’s ……

    tapi klo ….

    Biarlah Dunia mo Berkata Apa…

    adalah kata-kata aorang yang biasa-biasa aja ….. hehehehe…..
    ya macam aq ini ….

  2. Gravatar Icon 2 herman Apr 20th, 2008 at 8:33 WIB

    terserahlah dunia mo berkata apa …. gua seh ayik2 aza …. selama dunia masih ada .

Leave a Reply




Subscribe to this blog



Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Calendar

December 2007
S M T W T F S
« Nov   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Badges


Add to Technorati Favorites Firefox 2
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Display Pagerank
Peaceful Indonesia 10 Tahun Tragedi Mei 1998