Kemarin sore ada pertandingan sepak bola antara Persik Kediri melawan Persiwa Wamena di stadion Brawijaya, Kediri. Saya tidak tahu pasti bagaimana hasil pertandingan kemarin, tetapi beberapa orang yang saya temui mengatakan bahwa kemarin sore pertandingan dimenangkan oleh Persik Kediri, tim sepakbola dari tempat kelahiranku. Bangga loh.
Kemarin juga, saya berpapasan dengan konvoi para supporter waktu saya dalam perjalanan ke kota Kediri untuk urusan keluarga. Mereka ada ratusan orang, mungkin ribuan. Berkonvoi menggunakan banyak sepeda motor menggunakan seluruh badan jalan sehingga saya harus menepi sampai deretan-deretan konvoi habis. Eh ternyata saya lihat ada beberapa supporter yang membawa bendera dan kain atau apapun yang diputar-putar sambil dipukul-pukulkan ke mobil-mobil yang menepi. Salah satu yang kena itu mobil saya. Untung cuma kena kain. Tapi mobil pamanku spionnya kena pukul helm, kacanya pecah. Begitu juga dengan mobil pamanku yang lain, mobilnya dihadang paksa, diminta untuk menggantarkan para supporter yang tidak dapat kendaraan pulang.
Saya kecewa terhadap sikap para supporter bola yang tidak dewasa seperti ini. Seharusnya sebagai supporter, mereka melakukan sesuatu yang dapat mendukung mental dan semangat tim pemainnya. Menurut saya tindakan “show of force” dengan pengerusakan itu bukan dukungan untuk tim, tapi tekanan mental karena biasanya tim sepak bola yang disalahkan terlebih dahulu karena tidak mampu mengatur supporternya.
Jadi ayo, konco-konco arek kediri, konco Persikmania, ayo kita mulai belajar jadi supporter teladan. Kita dukung tim kita, dan kita dukung iklim sepak bola Indonesia terutama di kota Kediri menjadi iklim yang aman dan menyenangkan.






Namanya juga persikwaria
dimana-mana yah tetap kampungan
dasar cuma hanya berani dikandang saja
diluar kandang pasti babak belur